Kamis, 09 Desember 2010

Stratifikasi Sosial

Masyarakat manusia terdiri dari beragam kelompok-kelompok orang yang ciri-ciri pembedanya bisa berupa warna kulit, tinggi badan, jenis kelamin, umur, tempat tinggal, kepercayaan agama atau politik, pendapatan atau pendidikan. Pembedaan ini sering kali dilakukan bahkan mungkin diperlukan.
Semua manusia dilahirkan sama seperti yang selama ini kita tahu, melalui pendapat para orang-orang bijak dan orang tua kita atau bahkan orang terdekat kita. Pendapat demikian ternyata tidak lebih dari omong kosong belaka yang selalu ditanamkan kepada setiap orang entah untuk apa mereka selalu menanamkan hal ini kepada kita.
Dalam kenyataan kehidupan sehari-hari, kenyataan itu adalah ketidaksamaan. Beberapa pendapat sosiologis mengatakan dalam semua masyarakat dijumpai ketidaksamaan di berbagai bidang misalnya saja dalam dimensi ekonomi: sebagian anggota masyarakat mempunyai kekayaan yang berlimpah dan kesejahteraan hidupnya terjamin, sedangkan sisanya miskin dan hidup dalam kondisi yang jauh dari sejahtera. Dalam dimensi yang lain misalnya kekuasaan: sebagian orang mempunyai kekuasaan, sedangkan yang lain dikuasai. Suka atau tidak suka inilah realitas masyarakat, setidaknya realitas yang hanya bisa ditangkap oleh panca indera dan kemampuan berpikir manusia. Pembedaan anggota masyarakat ini dalam sosiologi dinamakan startifikasi sosial.
Seringkali dalam pengalaman sehari-hari kita melihat fenomena sosial seperti seseorang yang tadinya mempunyai status tertentu di kemudian hari memperoleh status yang lebih tinggi dari pada status sebelumnya. Hal demikian disebut mobilitas sosial. Sistem Stratifikasi menuruf sifatnya dapat digolongkan menjadi straifikasi terbuka dan stratifikasi tertutup, contoh yang disebutkan diatas tadi merupakan contoh dari stratifikasi terbuka dimana mobilitas sosial dimungkinkan.
Suatu sistem stratifikasi dinamakan tertutup manakala setiap anggota masyarakat tetap pada status yang sama dengan orang tuanya, sedangkan dinamakan terbuka karena setiap anggota masyarakat menduduki status berbeda dengan orang tuanya, bisa lebih tinggi atau lebih rendah.
Mobilitas Sosial yang disebut tadi berarti perpindahan status dalam stratifikasi sosial. Banyak sebab yang dapat memungkinkan individu atau kelompok berpindah status, pendidikan dan pekerjaan misalnya adalah salah satu faktor yang mungkin dapat meyebabkan perpindahan status ini. Masih banyak sebab-sebab lain dalam mobilitas sosial ini, namun yang menjadi pertanyaan saya adalah kondisi dan atas dasar apa individu maupun kelompok melakukan perpindahan status ini? Tetapi biarlah pertanyaan ini tetap menjadi pertanyaan.

“ Historically four basic systems of stratification have existed in human societies: slavery, caste, estates and class ” [2]

Stratifikasi sosial digunakan untuk menunjukan ketidaksamaan dalam masyarakat manusia. Seperti yang telah disebutkan diatas bahwa banyak dimensi dalam stratifikasi sosial akan tetapi tidak semua dimensi akan ditulis dalam makalah ini mengingat keterbatasan pengetahuan saya soal hal ini. Namun beberapa stratifikasi yang menurut saya penting akan saya tuliskan. Pertama, perbudakan seperti yang kita tahu pada sistem seperti ini masyarakat di bagi menjadi dua pemilik budak dan budak. Dimana seseorang atau kelompok orang dimiliki sebagai hak milik seseorang. Namun hal ini sudah lama tidak berlaku lagi saat ini. Salah satu penyebab adanyanya budak adalah perang. Dimana pihak yang kalah kemudian dijadikan tawanan kerja paksa.. Kedua, kasta hal ini berhubungan dengan kepercayaan bansa India dimana mereka percaya terhadap reinkarnasi bahwa manusia akan dilahirkan kembali, dan setiap orang wajib menjalani hidupnya sesuai dengan kastanya, dan bagi mereka yang tidak menjalankan kewajiban sesuai kastanya maka dalam kehidupan mendatang akan dilahirkan kembali didalam kasta yang lebih rendah. Setiap orang dalam sistem kasta ini mendapatkan tingkatan kastanya berdasarkan kasta keluarga mereka. Namun yang masih belum jelas disini adalah atas dasar apa dan darimana keluarga mereka mendapatkan kedudukan dalam kasta tersebut? Ketiga, Estates hal ini erat hubungannya dengan sistem Feodal dimana kedudukan seseorang dinilai dari seberapa banyak dia memiliki tanah. Tanah ini merupakan hadiah atau penghargaan untuk para raja-raja bangsawaan atas dukungannya terhadap raja. Keempat, kelas ialah pembagian masyarakat atas dasar kemampuan ekonomi yang tercermin dalam gaya hidupnya.
Perubahan sosial yang dialami oleh masyarakat sejak jaman perbudakan sampai revolusi industri hingga sekarang secara mendasar dan menyeluruh telah memperlihatakan pembagian kerja dalam masyarakat. Berdasarkan hal tersebut maka diferensiasi sosial yang tidak hanya berarti peningkatan perbedaan status secara horizontal maupun vertical. Hal ini telah menarik para perintis sosiologi awal untuk memperhatikan diferensiasi sosial, yang termasuk juga stratifikasi sosial. Perbedaan yang terlihat di dalam masyarakat ternyata juga memiliki berbagai macam implikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Status yang diperoleh kemudian menjadi kunci akses kesegala macam hak-hak istimewa dalam masyarakat yang pada dasarnya hak istimewa tersebut merupakan hasil dari rampasan dan penguasaan secara paksa oleh yang satu terhadap yang lainya, mendominasi dan didominasi, yang pada akhirnya merupakan sumber dari ketidaksamaan di dalam masyarakat. Berbagai macam argumentasi pun diajukan guna menjelaskan ketidaksamaan ini yang kemudian berubah menjadi ketidakadilan.

Fungsi Stratifikasi sosial
Stratifikasi sosial digunakan untuk menunjukan ketidaksamaan dalam masyarakat manusia. Seperti yang telah disebutkan diatas bahwa banyak dimensi dalam stratifikasi sosial akan tetapi tidak semua dimensi akan ditulis dalam makalah ini mengingat keterbatasan pengetahuan saya soal hal ini. Namun beberapa stratifikasi yang menurut saya penting akan saya tuliskan. Pertama, perbudakan seperti yang kita tahu pada sistem seperti ini masyarakat di bagi menjadi dua pemilik dan budak. Dimana seseorang atau kelompok orang dimiliki sebagai hak milik seseorang. Namun hal ini sudah lama tidak berlaku lagi saat ini. Salah satu penyebab adanya budak adalah perang. Dimana pihak yang kalah kemudian dijadikan tawanan kerja paksa. Kedua, ini soal kasta, hal ini berhubungan dengan kepercayaan bangsa India dimana mereka percaya terhadap reinkarnasi bahwa manusia akan dilahirkan kembali, dan setiap orang wajib menjalani hidupnya sesuai dengan kastanya, dan bagi mereka yang tidak menjalankan kewajiban sesuai kastanya maka dalam kehidupan mendatang akan dilahirkan kembali didalam kasta yang lebih rendah. Setiap orang dalam sistem kasta ini mendapatkan tingkatan kastanya berdasarkan kasta keluarga mereka.
Read More>>

Rabu, 24 November 2010

"GUNUNG MERAPI"

Gunung Merapi adalah gunung termuda dalam rangkaian gunung berapi yang mengarah ke selatan dari Gunung Ungaran. Gunung ini terletak di zona subduksi Lempeng Indo-Australia yang bergerak ke bawah Lempeng Eurasia. Puncak yang sekarang ini tidak ditumbuhi vegetasi karena aktivitas vulkanik tinggi. Puncak ini tumbuh di sisi barat daya puncak Gunung Batulawang yang lebih tua.
Masyarakat Lereng Merapi Enggan Mengungsi.
Dalam kasus merapi beberapa penduduk sekitar merapi enggan untuk mengungsi karena berbagai macam alasan.Memang semua boleh berpendapat dan beranalisa.
Dari sudut pandang pemerintah: sudah kewajban untuk menyelamatkan rakyatnya.
Dari sudut pandang penduduk sekitar merapi: ada yang beralasan belum mendapat perintah dari penguasa merapi, ini tanah hidup matinya, sudah takdir dsb.

faktor hal tersebut
Dalam kasus merapi beberapa penduduk sekitar merapi enggan untuk mengungsi karena berbagai macam alasan.Memang semua boleh berpendapat dan beranalisa.
- Dari sudut pandang pemerintah: sudah kewajban untuk menyelamatkan rakyatnya..
- Dari sudut pandang penduduk sekitar merapi: ada yang beralasan belum mendapat perintah dari penguasa merapi, ini tanah hidup matinya, sudah takdir dsb.

Maka banyak banyak orang yang tidak mengerti mengapa mereka enggan mau mengungsi padahal jelas-jelas bahaya di depan mata,seperti Abu terlihat masih menebal dan bertebaran jika tertiup angin. Kini warga mulai dihinggapi berbagai penyakit seperti sesak nafas, asma maupun radang tenggorokan. Belasan ribu warga menderita penyakit tersebut.Namun tidaklah bijak jika kita mengkritik tanpa memahami apa sih yang buat mereka bertahan (keyakinan, kepercayaan, budaya?) Memang tidak mudah untuk mengatasi ini. Banyak hal yang harus dimengerti dan dipahami karena mereka penduduk merapi juga punya keyakinan dan kepercayaan yang sudah turun temurun mereka yakini.


Aspek budaya
Selain itu, menurut pengajar Sosiologi Universitas Gajah Mada, Dr Mohammad Supraja, mengatakan bahwa bagi warga Gunung Merapi merupakan sumber kehidupan yang menjadi sumber nafkah mereka, mulai dari pertanian hingga peternakan.
"Secara kultural ada semacam ikatan kuat antara masyarakat di sana dengan gunung berapi itu karena mereka merasa aman dan nyaman secara ekonomis," ujar Dr Mohammad Supraja kepada BBC Indonesia.
Dengan kata lain mereka tidak bisa begitu saja meninggalkan sumber mata pencaharian yang sangat penting bagi mereka untuk tinggal di tempat pengungsian.
"Pemerintah tampaknya tidak siap dalam menampung para pengungsi ini," ujar Dr Mohammad Supraja, "Dari kesaksian keluarga Ponimin yang diwawancara bisa didengar bahwa mereka tidak mengungsi karena melihat fasilitas kamp pengungsi yang tidak bisa memberi kesempatan warga untuk menjalankan kehidupan mereka".
Lokasi yang jauh dari pusat kegiatan inti warga membuat mereka tidak bisa melanjutkan pekerjaan sehari-hari ataupun menjaga harta benda yang ditinggalkan.
Dia menambahkan seharusnya pemerintah sudah memiliki satu rencana yang lebih menyeluruh dan lebih rapih dalam menghadapi satu bencana yang secara ilmiah diketahui akan terjadi.
Status merapi dan mbah maridjan
Status Merapi dinyatakan waspada. Pemerintah pun bertindak dengan mengungsikan para warga yang tinggal di sekitar gunung teraktif di dunia itu. Namun ada satu orang yang tetap bersikukuh tinggal di rumah, Mbah Maridjan, juru kunci Merapi. Padahal rumahnya Dusun Kinahrejo hanya berjarak lima kilometer dari puncak Merapi.
"Saya masih kerasan dan betah tinggal di sini. Kalau ditinggal nanti siapa yang mengurus tempat ini," kata Mbah Maridjan, Senin 25 Oktober 2010. Meski demikian, pria bernama asli Mas Penewu Suraksohargo ini justru meminta warga menuruti imbauan pemerintah. "Saya minta warga untuk menuruti perintah dari pemerintah, mau mengungsi ya monggo," kata dia. Mbah Maridjan justru berpendapat, jika ia pergi mengungsi, dikhawatirkan warga akan salah menanggapi lalu panik. Mereka dikhawatirkan mengira kondisi Gunung Merapi sedemikian gawat. "Sebaiknya kita berdoa supaya Merapi tidak batuk," kata dia.
Warga juga diimbau memohon keselamatan pada Tuhan, agar tak terjadi yang tak diinginkan kalau nantinya Merapi benar-benar meletus.Kapan Merapi meletus menurut Mbah Maridjan?
Mbah Maridjan mengaku tak tahu. Apalagi, ia tak punya alat canggih seperti yang dimiliki Badan Vulkanologi. "Hanya Tuhan yang tahu kapan Merapi akan meletus. Saya tidak punya kuasa apa-apa," jawab dia.
Sikap serupa ditunjukkan Mbah Maridjan ketika Merapi mengalami erupsi pada tahun 2006. Saat itu, ia menolak untuk mengungsi meski dibujuk langsung oleh Sultan Hamengku Buwono X dan dijemput mobul evakuasi. Pilihan Mbah Maridjan ditanggapi berbeda oleh masyarakat. Ada yang pro dan kontra.
Hari itu Maridjan mengatakan, dia tetap di tinggal di rumah, menepati janjinya terhadap Raja Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang mengangkatnya. Sambil berdoa untuk keselamatan warga.



Alasan warga enggan mengungsi.
Alasan sebagian warga lereng Merapi tidak bersedia dievakuasi meski status gunung tersebut sudah meningkat menjadi “Awas” karena mereka meyakini belum mendapat perintah mengungsi dari Kiai Petruk, sebagai penguasa gunung Merapi. Mitos tersebut hingga kini begitu diyakini penduduk lereng Merapi, sehingga mereka memilih bertahan di desanya sebelum mendapat perintah dari Kiai Petruk dan kehidupan warga sudah turun-temurun telanjur menyatu dengan Gunung Merapi. Gunung Merapi bagian timur – ketika tiba-tiba terdengar dua letusan dahsyat. Tim Badan Penanggulangan Bencana pun segera memerintahkannya turun dari lereng gunung untuk menghindari awan panas tebal yang mematikan. Awan beracun bersuhu tinggi yang kerap disebut sebagai wedus gembel ini kerap turun dengan kecepatan tinggi.
ketika terdengar peringatan dari alat komunikasi salah satu tim Badan Penanggulangan Bencana. Kami semua segera diminta turun dari lereng. Ketika empat jam kemudian awan abu panas sudah tidak ada, kami mendekati lereng Gunung Merapi kembali. Saya mengontak tim Badan Penanggulangan Bencana mohon ijin untuk mengikuti mobil polisi. Sudah lagi terlihat aspal hanya ada debu setebal lima sampai 10 sentimeter, pohon-pohon terlihat hangus dan malang melintang di jalan-jalan. Tim kami terpaksa memotong pohon agar kendaraan bisa melalui jalan. Sepanjang jalan kami menemukan beberapa jenazah, saya bahkan menemukan seorang ibu yang masih hidup dengan memeluk bayinya. Tidak bisa saya ungkapkan sedihnya…… Selebihnya tidak ada lagi masyarakat yang ditemukan hidup

Keyakinan penduduk lereng merapi inilah yang menyulut ketegangan dengan petugas evakuasi . Tetapi petugas evakusi berjanji akan memaksa warga untuk segera mengungsi bila kondisi Merapi semakin gawat . Selain menggunakan pendekatan kepada warga, Pemkab Boyolali juga akan mengevakuasi paksa jika warga tetap bersikeras . Saat ini, selain menyiapkan tenda di Lapangan Selo, tim evakuasi juga telah memasang papan petunjuk arah di jalur evakluasi. Hal tersebut merupakan antisipasi jika Merapi meletus, warga pun bisa cepat tiba di pengungsian. Sekitar tujuh ribu warga di tiga desa di kaki Gunung Merapi, menolak dievakuasi ke pengungsian. Tiga desa tersebut adalah Desa Jrakah, Desa Telogo Lele, dan Desa Klakah. Sampai saat ini, baru ada sekitar 2.000 warga dari Desa Kemiren dan Kaliurang, kecamatan Srumbung, Magelang, yang telah bersedia meninggalkan rumah mereka yang berjarak sekitar 7 kilometer dari puncak Merapi .

Memandu penduduk lereng Merapi
MERAPI tahun ini menunjukkan kegarangannya kembali. Gunung berapi yang konon teraktif di dunia ini terus menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanolo - ginya, sehingga statusnya terus dinaikkan, dengan tujuan agar masya rakat di kawasan rawan bencana waspada. Tak cukup dengan hanya mengimbau, pihak berwenang pun terpaksa mengungsikan mereka, meskipun banyak di antaranya yang dilakukan dengan cara dipaksa.
Dengan cara seperti itu pun masih banyak di antaranya yang tetap bertahan, dengan berbagai alasan yang mereka sampaikan. Terlebih salah satu sesepuh yang mereka anggap sebagai juru kunci Merapi ketika itu masih mengatakan bahwa Kyaine (sebutan merapi ala Mbah Marijan) tidak apa-apa dan hanya bernapas serta dhehem-dhehem saja.
Ternyata apa yang diramalkan pihak yang berwenang kali ini benar adanya. Pada hari Selasa, tanggal 26 Oktober 2010 Merapi benar-benar meletus. Banyak korban yang lukaluka bahkan meninggal dunia. Banyak pula di antaranya yang menderita sesak napas sebagai akibat debu vulkanik, bahkan satu bayi meninggal dunia akibat debu vulkanik tersebut.
Meski sementara ini Merapi tampak beristirahat, namun penduduk baik yang berada di wilayah Jawa Tengah (Jateng) ataupun Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), merasa bingung, was-was, dan ketakutan ketika mereka memperoleh berbagai informasi serta melihat gejala peningkatan aktivitas gunung Merapi, terlebih ketika menyaksikan gunung Merapi meletus dan membawa banyak korban jiwa.
Berbagai informasi yang telah mereka peroleh sebelumnya, baik lewat media massa, dari aparat, ataupun komunikasi gethok tular yang sebelumnya sering mereka abaikan, sekarang menjadi kenyataan.
Sebelum Merapi meletus, sebenarnya berbagai penjelasan dari aparat yang berwenang pun telah mereka terima. Bahkan banyak di antara mereka yang telah menuruti saran untuk mengungsi ke tempattempat pengungsian yang disediakan, meski gejala terakhir menunjukkan banyak di antara mereka yang ingin kembali ke kampung halaman dengan berbagai alasan.
Kebanyakan yang masih memilih bertahan yakin bahwa mereka masih merasa aman, terlebih sesepuh mereka ketika itu mengisyaratkan aman. Mungkin, mereka baru akan mengungsi setelah memperoleh aba-aba dari sesepuh seperti Mbah Marijan, serta ada pula yang menunggu wangsit dari penunggu goib dari Merapi. Banyak pula di antaranya mungkin juga berpendapat toh ramalan ilmiah yang mereka sering dengar ketika itu juga belum terbukti, seperti tahun-tahun sebelumnya.
Setelah melihat kenyataan Merapi akhirnya meletus dan membawa banyak korban, maka pertanyaannya, mengapa sebahagian penduduk lereng merapi memilih bertahan dan yang semula telah mengungsi juga banyak yang ingin kembali dengan berbagai alasan, padahal gejala alam yang ditunjukkan Merapi ketika itu makin mengkhawatirkan?
Adakah jalan keluar yang baik sekaligus akan dituruti penduduk lereng merapi di masa yang akan datang, sehingga bila Merapi benar-benar meletus seperti yang baru saja terjadi, maka korban manusia bisa seminim mungkin atau bahkan tidak ada?

Kepastian
Melihat gejala masih banyaknya penduduk yang memilih bertahan dan yang meninggalkan pengungsian kembali ke kampung halaman dengan berbagam alasan, bila kita lihat dari sisi komunikasi tampaknya hal tersebut disebabkan oleh ketidakpastian (enthropy) kapan Merapi akan meletus. Bila dikaitkandengan Teori Enthropy yang menyebutkan bahwa informasi akan dianggap informatif bila mampu menghilangkan ketidakpastian, tampaknya pada kasus gejala akan meletusnya Merapi hal tersebut akan sangat sulit diwujudkan.
Kenyataan telah menunjukkan kondisi alam Merapi masih berubahrubah. Berbagai ramalan yang selama ini telah banyak terlontar baik lewat media ataupun komunikasi lainnya ketika itu juga belum terbukti.
Padahal banyak para ahli sosiologi yang menyebutkan bahwa masyarakat akan lari ke sesuatu yang berkait dengan masalah gaib/mistik, bila mereka sedang menghadapi ketidakpastian, termasuk tentang kapan Merapi akan meletus, seberapa besar letusannya, termasuk wilayah yang terkena dampaknya.
Melihat gejala ini, tak mengherankan bila masih ada penduduk yang tinggal di wilayah tertentu yang jelas sangat rawan bahaya, memilih bertahan, karena mereka merasa yakin bahwa dampak letusan tidak akan menimpa wilayah mereka. Celakanya, ketika banyak di antara mereka yang telah mau mengungsi, mungkin mereka merasa pelayanan yang diterima kurang memadai, sehingga mereka menjadi jenuh dan banyak di antaranya yang ingin kembali pulang.
Karena ketidakpastian, pelayanan, dan kejenuhan itu tampaknya yang jadi masalah, maka di masa yang akan datang pihak yang berwenang hendaknya memfokuskan perhatian untuk bisa mengatasi hal tersebut. Kita yakin bahwa pihak yang berwenang tentu menginginkan minimnya jumlah korban bila sampai Merapi benar-benar meletus seperti yang terjadi belum lama ini. Penduduk lereng Merapi pun sebenarnya juga berkeinginan demikian.
Karena itu jalan bijaksana yang harus diupayakan pihak berwenang adalah menyediakan sarana serta prasarana yang memadai. Ke depan, jangan lagi terdengar masyarakat terpaksa secara swadaya memperbaiki jalur evakuasi yang rusak misalnya.
Begitu pula dengan tempat pengungsian yang memadai, sekaligus memberikan kegiatan terhadap para pengungsi, agar mereka tidak merasa jenuh. Ini perlu dilakukan dengan serius, mengingat pengungsi Merapi akan tinggal di pengungsian dalam waktu yang lama, setidaknya sejak Merapi belum meletus, hingga setelah meletus.
Melalui kerjasama dengan media massa serta berbagai pihak secara terpadu, maka informasi yang diterima penduduk lereng merapi dapat disaring. Ini penting mengingat bila setiap informasi dibiarkan masuk sehingga banyak yang tumpang tindih bahkan saling bertentangan, akan membingungkan masyarakat sekaligus menyebabkan munculnya ketidakpastian.
Selain itu, perlu dilakukan pendekatan dengan para sesepuh yang dianggap menjadi panutan penduduk, selanjutnya kepada mereka diajak dialog dengan menggunakan bahasa serta budaya beserta keyakinan yang mereka miliki, sehingga diharapkan akan tercapai kesepahaman, terutama menyangkut keselamatan jiwa penduduk. Ini perlu dilakukan, karena sebenarnya tujuan antara pihak berwenang dengan para sesepuh itu sama yaitu keselamatan dan kesejahteraan penduduk.
Mungkin saja selama ini bahasa birokratis dan ilmiah yang banyak digunakan, sehingga sangat sulit dimengerti oleh para sesepuh, sehingga seolah mereka terkesan abai, padahal sebenarnya bukan demikian yang dikehendaki para sesepuh tersebut. Karena itu komunikasi manusiawi dengan memanfaatkan bahasa budaya, diharapkan akan mampu menghilangkan stereo types sekaligus prejudice di antara ke dua belah pihak karena tujuannya sebenarnya sama.
Kita lalu ingat berbagai program pemerintah yang pernah dilakukan bersama-sama dengan para pemuka masyarakat, seperti transmigrasi bedhol desa yang ada di Watukelir ketika waduk Gajah Mungkur akan dibangun, yang berhasil mengatasi keengganan masyarakat untuk bertransmigrasi, karena kelekatan baik dengan tanah kelahiran ataupun dengan para sesepuh desanya.
Meski tidak mungkin sama, karena kasusnya sangat berbeda, namun setidaknya hal semacam itu pantas kita pikirkan. Kejelasan serta kelengkapan informasi yang diterima penduduk, dukungan para sesepuh, serta tersedianya sarana dan prasarana yang memadai di tempat pengungsian, tampaknya merupakan alternatif yang memadai, sehingga penduduk lereng Merapi akan terpandu menuju sebuah solusi yang aman, nyaman, sekaligus terhindar dari menjadi korban yang siasia.

Solusi untuk menaggulangi masyarakat yang enggan mengungsi.
Pertama-tama kita harus meyakinkan dahulu mereka kalau daerah trsebut masih blum benar-benar aman. Karena gunung merapi sekarang terlihat sedang beristrirahat, tetapi kita jangan lengah terhadapnya yang masih berstatus awas. Sewaktu-waktu gunung tersebut dapat meletus bahkan lebih dahsyat dari letusan sebelumnya.
Pemerintah juga harus memadai posko-posko pengungsian, bahan pangan, sandang, obat-obatan, dan peralatan-peralatan yang cukup agar pengungsi merasa nyaman, aman, dan tidak kembali k rumah mereka yang berada d radius berbahaya.
Bagi saudara-saudara ydi Indonesia yang mampu untuk membantu saudara-saudara kita yang terkena bencana ala mini, di mohon bantuannya. Karena bantuan apapun yang saudara berikan akan sangat berarty bagi mereka dan dapat juga membuat mereka enggan kembali k rumah mereka. Jadi solusi- solusi seperti inilah yang bisa kita lakukan untuk membuat para korban merapi enggan kembali k rumahnya yang berada dalam radius berbahaya.
Read More>>

Rabu, 06 Oktober 2010

Visi, Misi dan Tujuan Program Studi Teknik Industri

VISI:
Menjadikan Program Studi Teknik Industri berkualifikasi tinggi yang selalu menyesuaikan perkembangan industri manufaktur dan jasa, menghasilkan lulusan yang kompetitif, berpola pikir integral dan mampu mengisi dan menciptakan lapangan kerja pada industri dengan dilandasi oleh iman kristiani serta nilai moral dan etika kehidupan berprofesi, bermasyarakat dan bernegara.


MISI:
1. Pengelolaan program studi yang efektif dan efisien dalam rangka penciptaan iklim akademik dengan suasana: disiplin, kreatif, proaktif dan produktif yang dijiwai semangat pelayanan.
2. Pencapaian produktivitas dan kualitas lulusan yang berkompetensi dalam bidang industri manufaktur dan jasa serta beretika profesi.
3. Peningkatan pelayanan kepada masyarakat industri di tataran nasional dan internasional.


TUJUAN:
Tujuan pendidikan Program Studi Teknik Industri adalah menghasilkan sarjana teknik industri yang berpengetahuan, berketrampilan dan berkualifikasi dalam analisis dan perancangan sistem industri manufaktur dan jasa serta berperan aktif dalam perkembangan dunia industri baik dalam tataran domestik maupun mancanegara.
Read More>>

Minggu, 03 Oktober 2010

Tentang Teknik Industri

Seorang teknik industri adalah seorang yang berhadapan dengan sistem. Mereka mempunyai kemampuan untuk merancang, mengimplementasi, maupun meningkatkan sebuah sistem terintegrasi yang terdiri dari manusia, mesin, material, informasi, atau energi. Seorang teknik industri dapat menemukan cara yang lebih baik dalam hal apapun.

Kata kunci teknik industri adalah produktifitas, efektivitas, dan efisiensi.

Karir yang dapat ditempuh seorang mahasiswa teknik industri setelah lulus adalah production engineers, supply chain managers, operation analysts, quality engineers, and information system analysts. Bidang yang digeluti juga sangat luas, segala macam bisnis, perusahaan, maupun pemerintahan yang menginginkan peningkatan kinerja dan mengurangi biaya membutuhkan seorang teknik industri. Selain itu juga, banyak lulusan teknik industri yang membuat usaha sendiri maupun masuk ke dalam konsultan.

Teknik industri merupakan program studi yang menantang, berkualitas dan penuh peluang. Tidak ada tempat yang tidak akan dapat kamu tuju dengan menjadi sarjana teknik industri.

Read More>>

SEJARAH SINGKAT TEKNIK INDUSTRI

Teknik Industri didefinisikan sebagai ilmu tentang perencanaan (planning), perencangan (designing), penyusunan (instalation), pengendalian (controlling) dan perbaikan (improvement) sistem yang terintegrasi yang tersusun atas manusia – mesin – material – metoda kerja – modal – energi dan informasi dengan menarik manfaat keilmuan lain seperti matematika, pengetahuan alam dan sosial. Teknik Industri juga mencakup ilmu teknik dan manajemen yang terintegrasi yang berupaya menilai, mengukur, menghitung dan meramalkan hasil yang akan dicapai oleh sistem yang terintegrasi. Jadi dapat dikatakan pula Teknik Industri merupakan ilmu yang menjembatani antara ilmu keteknikan dan ilmu sosial.
Menurut sejarah perkembangannya di Indonesia, Teknik Industri lahir dari adanya permasalahan yang terjadi dalam proses manufaktur yang pada masa itu lebih banyak dilakoni oleh para sarjana Teknik Permesinan. Para akademisi dan sarjana Teknik Permesinan yang bekerja di perusahaan terkemuka di Indonesia merasa adanya kesenjangan pemahaman antara para sarjana ilmu sosial dan sarjana keteknikan khususnya permesinan tadi terutama ketika suatu organisasi melaksanakan proses perencanaan dan pengendalian produski. Sehingga munculah ide untuk membentuk suatu bidang ilmu yang bukan hanya membahas tentang proses yang bersifat keteknikan, namun juga menguasai aspek-aspek penunjang lainnya termasuk bidang sosial. Program Studi tersebut diberi nama dengan Program Studi Teknik Industri.
IAIN Sulthan Syarif Qasim Pekanbaru yang telah meningkatkan statusnya menjadi Universitas Islam Negeri Sulthan Syarif Kasim Riau telah mendirikan Program Studi Teknik Industri pada tanggal 9 April 2001 dengan melaksanakn kerja sama antara pemerintah propinsi dan kabupaten dan kota, Universitas Riau, ITB dan Industri-industri utama yang ada di Propinsi Riau. Keberadaan Program Studi sebagai bagian dari Fakultas Sains dan Teknologi UIN Suska Riau diharapkan akan memberikan dukungan bagi upaya Propinsi Riau untuk mewujudkan program peningkatan sumber daya manusianya yang tertuang dalam Visi Riau 2020.
Read More>>

Minggu, 26 September 2010

Al-Qur'an Yang Dibakar Oleh Dua Orang Pendeta Di Amerika


Setelah rencana pembakaran Al Quran di Amerika dibatalkan, masyarakat Islam sedunia sempat lega, khususnya di Indonesia karena dilaporkan bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menyurati Presiden Barack Obama.
Menurut laporan Tennessean.com, pembakaran kitab suci Islam itu tetap dilakukan, Sabtu lalu di kediaman salah seorang pendeta AS. Dilaporkan bahwa dua pendukung pendeta Terry Jones melakukan aksi itu. Pelakunya adalah pendeta Bob Old dan pendeta Danny Allen, dilakukan di hadapan media.
Aksi kedua pendeta itu dilakukan di rumah pendeta Old, dan mereka mengaku aksinya merupakan pesan dari Tuhan. Gereja telah mengecewakan banyak orang karena tidak mendukung aksinya, kata Old. "Saya yakin bahwa sebagai negara kita berada dalam bahaya," katanya.
"Ini adalah buku berisi kebencian, bukan cinta," katanya sambil memegang Al Quran sebelum kemudian membakarnya. "Ini adalah kitab palsu, Nabi Muhammad adalah nabi palsu dan itu merupakan wahyu palsu," tambahnya.
Gerakan bakar Al Quran yang digaungkan Dove World Outreach Center dari Gainesville, Florida, amat sangat menghina umat Islam. Namun, umat Islam diminta harus bisa menyikapinya dengan arif dan tenang.
“Ini bagian dari pemacu amarah umat. Kita harus lebih objektif memandang masalah ini. Jangan terbawa emosi,” kata Syahrin Harahap, rektor Univa Sumatera Utara kepada Waspada Online, tadi malam.
Syahrin juga menghimbau agar umat Islam jangan terpancing dengan kebodohan ini. “Saya yakin, penentang mereka bukan hanya umat Islam tapi juga umat lainnya. “Karena tidak ada satu agama pun di dunia ini yang mengajarkan umatnya untuk menghina agama lain termasuk kitab dan nabi agama lain,” tegas cendekiawan asal Sumut ini.
Sebelumnya melalui news.com.au, Terry Jones menuduh Islam dan hukum syariah bertanggungjawab atas aksi terorisme terhadap World Trade Center di New York pada 11 September 2001. "Kami menyerukan agar umat manusia, termasuk umat beragama di Indonesia, tak terjebak dalam perbuatan-perbuatan anarki seperti ini yang justru tidak memperlihatkan sikap keadaban," ujar Gerakan Peduli Pluralisme, baru-baru ini.
Kelompok yang menyatakan dukungannya terhadap pernyataan Gerakan Peduli Pluralisme, antara lain, PGI, Parisadha Hindu Dharma Indonesia, Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia, Ma'arif Institute, Moderate Muslim Society, Forum Kerukunan Antarumat Beragama, Masyarakat Dialog Antaragama, Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia, dan Forum Lintas Agama

Seperti dilansir dari situs Tennessean.com, (12/9/2010) menulis bahwa Pendeta Bob Old bersumpah melaksanakan aksinya membakar Alquran bersama Pendeta Danny Allen. Aksi kedua pendeta itu dilakukan di pekarangan belakang rumah Old dengan secara sengaja didokumentasikan.
"Ini adalah buku berisi kebencian, bukan cinta," dengan memegang Al-Quran sebelum kemudian membakarnya.
Pendeta Bob Old juga mengatakan Nabi Muhammad adalah nabi palsu.
"Ini adalah kitab palsu, Nabi Muhammad adalah nabi palsu dan itu merupakan wahyu palsu," kelakar dia.
Sementara itu, tokoh umat Islam di Tangerang Selatan KH Rahmatullah menghimbau umat Islam tidak terprovokasi atas prilaku biadab tersebut.
"Kami mengutuk sekaligus menghimbau umat Islam untuk tidak terpancing hal tersebut," katanya, Rabu (15/9/2010).
Dia juga meminta pemerintah Amerika memberi hukuman setimpal kepada kedua pembakar kitab suci Al-Quran tersebut

Read More>>